BIOLOGI FOREVER
Blog Saya ini menampilkan informasi seputar mata pelajaran biologi, jalan-jalan, camping, dan tentang karya tulis ilmiah serta informasi tentang dunia pendidikan
Rabu, 18 Februari 2026
Kue Pastel Ala Bunda Dian
Resep Kue Lapis Ala Bunda Dian
Jumat, 04 Juli 2025
Sedih
Bagaimana jika sebuah hubungan dinodai hanya dari sebuah kata "Bohong"?
Bohong hanya terdiri dari enam huruf, namun maknanya sangat mendalam, apalagi jika bohong diikuti oleh satu kata bohong, dan satu kata bohong lainnya.
Setujukah Anda, apabila kata bohong juga dikatagorikan sebagai pembullyan? Ingat bahwa, kata-kata akan disebut sebagai bully apabila dilakukan berkali-kali dan menyebabkan rasa tidak nyaman pada korbannya.
Jika bohong dilakukan sekali, itu bisa dikatanya sebagai suatu keterpaksaan belaka ketika menghadapi situasi sulit. Bohong kedua, masih bisa ditoleransi karena kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Lalu bagaimana jika dilakukan lagi bohong ketiga, keempat dan seterusnya?
Pada saat itu, ada rasa marah, ingin bicara dengan seseorang namun seseorang tersebut bukanlah dipihak kita. Yang terjadi adalah akan ada rasa sakit, terluka dan tidak suka hingga berujung rasa marah. Dimana si pembully akhirnya merasa menjadi pihak teraniaya.
Sedih...lebih sedih lagi jika hal ini dilakukan oleh saudara kita sendiri.
Ampuni Hamba Yaa Allah.
Senin, 20 Januari 2025
Guru Bermutu: Tantangan dan Solusinya
GURU BERMUTU: TANTANGAN
DAN SOLUSINYA
Oleh
ANITA DIAN SUKARDI,
S.Pd., M.Pd.
Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal yang paling bermakna di dunia ini. Setiap
individu memiliki hak yang sama dalam memeroleh pendidikan. Mari kita kembali
mengingat Undang-Undang dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang menjelaskan bahwa setiap warga
negara berhak mendapat pendidikan. Lalu seperti apakah pendidikan yang
dimaksud? Tentu, pertanyaan ini menjadi tanggung jawab Kita untuk menjawab dan
mewujudkannya.
Undang-undang Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, yang tercantum dalam Pasal 3 tentang tujuan pendidikan nasional
adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Dan untuk mewujudkan tujuan tersebut, tentunya bukan hal mudah
namun juga bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan, sebab dari jaman ke jaman
pendidikan memiliki tantangannya tersendiri. Seperti yang terjadi
tahun 2020, saat Indonesia mengalami pandemi Covid 19, hingga berdampak pada
dunia pendidikan yang dikenal dengan istilah “learning loss”, dan sampai saat ini masih terasa dampaknya. Learning Loss atau jika diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia berarti kehilangan pembelajaran, adalah suatu kondisi seseorang
dan atau kelompok yang mengalami penurunan kemampuan belajar.
Kemampuan belajar yang dimaksud adalah kemampuan seseorang untuk
memeroleh, memroses, menyimpan dan menerapkan informasi baru. Tentunya hal
tersebut merupakan kondisi kompleks,
yang dialami sehingga pada akhirnya akan berpengaruh pada kemampuan
pengetahuan, keterampilan proses dan sikapnya. Learning Loss yang terjadi akibat pandemi Covid 19, secara
umum murid
mengalami kegagalan dalam memahami informasi tentang konsep atau materi
pelajaran, hal ini terjadi karena pembelajaran dilaksanakan secara daring. Sebab,
tidaklah sama apabila pembelajaran dilakukan secara tatap muka, meskipun
teknologi dapat menyediakan seluruh informasi yang diperlukan oleh murid, namun
teknologi tidak akan mampu menggantikan kehadiran guru. Karena guru tidak hanya
mengajarkan suatu ilmu, namun juga mendidik dan menanamkan nilai-nilai budi
pekerti, melaksanakan pembelajaran sosial
emosional dan budaya positif yang sangat diperlukan oleh murid dalam menghadapi
perubahan jaman.
Selain itu, kemampuan pengetahuan, keterampilan proses dan sikap
merupakan satu kesatuan yang bersifat simbiotik, artinya ketiganya saling
berhubungan. Kemampuan pengetahuan ini merupakan kemampuan seseorang untuk
mengingat, menganalisis, menyintesis dan mengevaluasi sebuah informasi,
sedangkan keterampilan proses adalah kemampuan seseorang dalam melakukan
kegiatan hasil dari memahami konsep tersebut, sedangkan sikap merupakan kondisi
yang terjadi pada seseorang dalam merespon pemahaman dan keterampilan prosesnya
sehingga memunculkan motivasi intrinsik dalam dirinya. Motivasi intrinsik
merupakan dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan hal-hal yang dipahami
karena tertarik, berminat hingga pada akhirnya akan mencapai kepuasan
tersendiri dalam dirinya, bukan dari dorongan faktor eksternal.
Dan saat mengalami learning
loss, murid tidak akan dapat memeroleh ketiganya secara langsung, mereka
lebih cenderung hanya dapat memeroleh kemampuan pengetahuan, karena dapat
dilakukan secara mandiri, sumber belajarpun bisa diperoleh dimana saja (dari
internet), karena guru bukanlah sumber belajar satu-satunya yang dimiliki oleh
murid. Namun yang umumnya terjadi, murid kesulitan memahami sebuah konsep
apabila belum mendapatkan penguatan dari seorang guru. Hal tersebut akan sangat
berpengaruh pada kemampuan keterampilan prosesnya, karena keduanya saling
berkaitan, artinya bila murid tidak dapat memahami sebuah konsep maka
keterampilan prosesnya pun juga cenderung rendah. Dalam kaitannya dengan
keterampilan proses, bila dihadapkan pada materi sains yang erat hubungannya
penggunaan alat dan bahan di laboratorium, murid mungkin akan merasa kesulitan
dalam menerapkannya karena tidak semua murid memiliki sarana dan prasarananya
di rumah masing-masing, meskipun murid dapat secara kreatif menerapkan hasil
pemahaman materi pembelajaran dengan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan
dengan alat dan bahan seadanya di rumah, namun secara umum kondisi learning loss menyebabkan kreatifitas
murid menjadi sangat berkurang, hal ini pula yang menyebabkan kemampuan
keterampilan proses murid menjadi menurun. Terlebih lagi, jika dikaitkan dengan
kemampuan sikap, secara umum rendahnya kemampuan pengetahuan dan keterampilan
proses akan berdampak pada kemampuan sikap murid, yakni pada minat, motivasi
belajarnya maupun karakter sopan santunnya terhadap guru.
Teknologi, Digital Native dan Disrupsi. Apa
Hubungan dari Ketiganya?
Meski pandemi Covid 19 telah berlalu, namun dampaknya masih ada
hingga saat ini. Seiring perubahan jaman dengan teknologi yang semakin maju,
kondisi disrupsi sudah pasti dialami oleh sebagian besar guru. Disrupsi,
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal yang tercabut dari
akarnya. Hal ini dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau perubahan mendasar
dan signifikan yang dapat mengguncang dan mengubah tatanan kehidupan yang sudah
ada secara drastis, salah satu penyebabnya adalah teknologi.
Teknologi menggantikan seluruh aspek kehidupan, terutama bidang
pendidikan. Pembelajaran digantikan dengan teknologi berupa smartphone, laptop atau komputer.
Karakteristik murid yang lahir antara tahun 1997 sampai dengan 2012 atau biasa
disebut Generasi Z (Gen Z), juga memberikan pengaruh besar terhadap penggunaan
teknologi.
Beberapa karakter yang dimiliki Gen Z yakni digital native artinya
mereka merupakan golongan yang sangat mahir dalam menggunakan teknologi digital
seperti smartphone, aktif dalam media
sosial serta perbagai aplikasi lainnya. Mereka secara mandiri dapat dengan
mudah mempelajari dan menggunakan teknologi tersebut tanpa merasa kesulitan,
hingga pada akhirnya mereka menjadi merasa handal dan kurang mempedulikan
kehadiran seorang guru, dan seketika itu guru mengalami yang namanya disrupsi.
Dan guru, jangan pernah mengalami hal ini.
Guru tetap harus menjadi role
model bagi murid-muridnya di sekolah, dan seyogyanya jangan sampai
mengalami disrupsi. Justru sebaliknya, banyak hal yang harus dilakukan oleh
guru dalam mendidik murid untuk menghadapi tantangan digital native yang secara umum akan dialami oleh murid-muridnya,
antara lain: 1) FOMO (Fear of Missing Out) yakni suatu tekanan untuk selalu
terhubung serta mengikuti tren-tren baru, 2) cyberbullying, 3) ekspektasi yang tinggi terhadap dirinya sendiri
dan orang lain, 4) sulit membedakan informasi benar atau salah.
Lalu apa yang Sebaiknya
Dilakukan oleh Guru dalam Menghadapi Digital
Native?
Digital native tidak boleh
menghilangkan jati diri seorang guru, namun sebaliknya justru menjadikannya
sebagai tantangan untuk meningkatkan mutu kita sebagai guru. Untuk menjadi guru
yang bermutu, tentunya bukan hal mudah. Jati diri seorang guru artinya adalah
seorang guru tidak hanya sekedar menyampaikan materi, namun juga memiliki
karakteristik berikut: 1) memahami filsafat pendidikan yakni pandangan tentang
tujuan pendidikan dan mewujudkan proses pembelajaran yang ideal, 2) memiliki
keterampilan paedagogis yakni kemampuan dalam pengelolaan kelas serta interaksi
dengan murid, 3) memahami dan mengelola emosi diri dan murid dengan baik
melalui pelaksanaan pembelajaran sosial emosional di sekolah, 4) serta
menanamkan nilai-nilai budi pekerti baik pada murid.
Murid memang sangat akrab dalam teknologi, mereka dapat dengan
mudah mengakses banyak hal serta mampu belajar secara mandiri. Namun teknologi
hanyalah sebuah alat, dan guru tetap memiliki peran yang krusial dalam pendidikan,
yakni dalam hal membimbing penggunaan teknologi sehingga murid dapat memilih
alat dan aplikasi yang sesuai dengan materi dan kondisi mereka masing-masing,
serta menanamkan etika digital agar murid dapat memilih dan memilah penggunaan
teknologi dengan bijak sehingga mereka akan terhindar dari penyalahgunaan
teknologi yang dapat menjerat mereka pada tindakan negatif, selain itu juga mengajarkan keterampilan
digital agar murid dapat menggunakan perangkat lunak, serta platform
pembelajaran.
Kehadiran digital native,
harus menjadi peluang atau kekuatan bagi guru untuk upgrade diri menjadi lebih bermutu, dengan melakukan hal-hal
berikut: 1) berinovasi, dalam hal menggunakan teknologi untuk mewujudkan
pembelajaran yang menarik dan efektif bagi generasi Z, 2) berkolaborasi dengan
murid dalam proses pembelajaran, dengan memberikan peluang bagi
mereka untuk mengeksplorasi diri dengan baik, 3)
terus belajar dan meningkatkan kompetensi diri serta berupaya meningkatkan
kualitas pembelajaran serta berpihak pada murid, murid dan murid.
Guru juga harus lebih peka terhadap keadaan dan menyadari bahwa
kaitannya dengan teknologi, ada banyak hal perlu diperhatikan bahwa 1) bisa
saja terjadi kesenjangan digital terjadi pada murid karena tidak semua dari
mereka memiliki akses yang sama terhadap teknologi, 2) penggunaan teknologi
berlebihan dapat berdampak negatif pada murid, 3) guru bukan lagi pusat
informasi melainkan sebagai fasilitator.
Bagaimana menjadi Guru
Bermutu, Tantangan dan Solusinya?
Agar menjadi guru bermutu serta tidak kehilangan jati diri di
tengah disrupsi, maka hal-hal yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan
Kompetensi Sosial Emosional (KSE). KSE merupakan kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola emosi dirinya,
membangun relasi positif dengan berbagai pihak, serta pengambilan keputusan
tepat dan bertanggung dalam berbagai situasi. KSE merupakan kemampuan seseorang
untuk membangun relasi dengan pihak lain dan hidup berdampingan secara
harmonis.
Secara
umum, KSE mencakup lima aspek utama, yakni: 1) kesadaran diri (Self-Awareness), artinya memahami emosi,
kekuatan, kelemahan, dan nilai-nilai diri sendiri, 2) pengelolaan diri (Self-Management), artinya mengelola
emosi, pikiran, dan perilaku secara efektif untuk mencapai tujuan, 3) kesadaran
sosial (Social Awareness), artinya
memahami perspektif orang lain, empati, dan menghargai keragaman, 4)
keterampilan sosial (Relationship Skills),
artinya membangun dan memelihara hubungan yang positif, berkomunikasi secara
efektif, dan bekerja sama, 5) pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (Responsible Decision-Making), artinya
membuat pilihan yang baik berdasarkan nilai-nilai dan konsekuensi.
Mengapa Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ini sangat penting untuk
ditingkatkan? Berikut penjelasannya, 1) menguasai teknologi dengan terus
belajar dan “melek” teknologi, dalam
hal ini guru dituntut untuk terus beradaptasi dengan perubahan yang cepat,
dengan kompetensi sosial emosional maka guru dapat lebih mudah untuk
mengendalikan diri, mengatasi stress dengan sebaik-baiknya serta memiliki
keterampilan dalam memecahkan masalah yang kompleks, jika hal ini dapat
dilakukan maka guru dapat dengan mudah dan siap dalam menghadapi tantangan baru
dalam dunia pendidikan, 2) guru adalah
model peran (role model) bagi
muridnya, dengan menguasai kompetensi sosial emosional maka guru dapat menjadi
contoh yang baik baik bagi muridnya dalam hal mengelola sosial emosionalnya
sehingga dapat membuat keputusan yang bijak, 3) berjiwa inovatif dan mau keluar
dari zona nyaman serta terus belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,
dengan penguasaan sosial emosional sehingga tercipta suasana belajar yang
nyaman dan kondusif, 3) membangun hubungan positif dengan memperkuat ikatan
kolaborasi dengan sesama guru, orang tua dan terutama dengan murid, hal ini
sangat penting dilakukan dengan meningkatkan kompetensi sosial emosional
sehingga terbentuk komunikasi efektif, dan empati yang tinggi dalam diri
seorang guru sehingga mampu memberikan keputusan yang bijak bagi dirinya
sendiri maupun orang lain.
Meningkatkan kompetensi sosial emosional, dapat dilakukan dengan
cara 1) mengikuti pelatihan dan pengembangan diri secara mandiri yang fokus
pada pengembangan keterampilan sosial emosional guru, misalnya mindfulness (kesadaran penuh) dan
meditasi, coaching untuk
mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan komunikasi, dan pembelajaran
kolaboratif sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama, 2)
mengoptimalkan komunitas belajar baik di tingkat sekolah maupun komunitas
praktisi lainnya yang ada di kabupaten, provinsi maupun nasional, 3) membuka
diri untuk terus belajar guna meningkatkan cakrawala berpikir utamanya dalam
mengelola sosial emosional diri.
Kesimpulan
Digital native, sebetulnya tidak
menghilangkan jati diri guru, guru tetaplah menjadi sosok yang penting dalam
proses pembelajaran. Agar hal tersebut dapat bersinergi dengan baik, maka kunci
kesuksesannya adalah dengan menggabungkan antar keduanya yakni kekuatan
teknologi dengan kehangatan manusia. Agar hal tersebut terwujud, maka guru
harus mau belajar dan membuka diri menerima perubahan dengan senantiasa
beradaptasi sehingga digital native
tidak mengubah peran guru.
Dengan upgrade diri
menjadi guru bermutu, apapun tantangannya dan menemukan solusinya sehingga guru
tetap memiliki marwah di dunia pendidikan, serta menjadi sosok yang dirindukan
oleh murid-muridnya. Selain itu, tidak takut untuk berubah dan keluar dari zona
nyaman, serta memperluas jejaring sosial dengan komunitas praktisi, sehingga
menambah cakrawala berpikir untuk terus belajar.
Meningkatkan keterampilan sosial emosional adalah juga tidak kalah
pentingnya untuk menjadi guru bermutu, karena hal tersebut dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran serta menciptakan generasi yang lebih siap di masa depan,
mereka tidak hanya mahir dalam teknologi namun juga memiliki budi pekerti luhur
yang dapat menjadi kontrol dalam pemanfaatannya.
Mari menjadi guru bermutu, di tengah disrupsi, tidak takut akan
perubahan serta adaptif, karena teknologi tidak bisa menggantikan kehadiran
guru, karena guru tidak hanya mengajarkan ilmu namun juga mendidik murid sesuai
kodrat alam dan jamannya, sehingga nantinya akan terbentuk generasi emas
kebanggaan Bangsa Indonesia.
Senin, 24 Juni 2024
2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi
Kesimpulan tentang Pembelajaran Berdiferensiasi
Adakah yang lebih bermakna di dunia ini selain pendidikan? Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam Masyarakat. Menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka salah satu upaya untuk mencapainya adalah dengan pendidikan. Pendidikan menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diwariskan atau diteruskan.
Ki Hajar Dewantara juga menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karenanya, pendidik berperan sebagai penuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anal sehingga dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Nilai berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif sangatlah penting dalam menjalankan peran menjadi pemimpin pembelajaran, yang menaruh perhatian penuh secara sengaja pada komponen pembelajaran, seperti kurikulum (intra, ekstra, dan ko-kurikuler), proses pembelajaran, refleksi dan asesmen yag otentik dan efektif, selain itu juga sebagai pengembangan guru dengan menjadi coach bagi guru lain dengan mendorong kolaborasi bersama komunitas praktisi baik di sekolah, MGMP maupun organisasi pendidikan lainnya sebagai upaya mewujudkan kepemimpinan murid.
Banyak belajar dari pengalaman, baik itu refleksi dari murid maupun rekan sejawat dapat menempatkan diri sebagai pribadi yang ingin terus belajar, belajar dan belajar, karena sejatinya belajar adalah sepanjang hayat. Setiap yang ada di hadapan kita adalah ruang dan sarana kita belajar, termasuk juga dengan murid. Membersamai mereka setiap hari adalah juga belajar setiap hari. Seringkali tanpa sadar kita mengabaikan keinginan masing-masing murid dengan memaksakan kehendak mereka dengan pembelajaran yang kita bawakan. Padahal mereka adalah karakter yang berbeda. Gaya belajar beda, minat beda, keterampilan beda, ada yang suka berkelompok adapula yang suka menyendiri.
Setiap hari, kita dihadapkan pada keberagaman yang banyak sekali bentuknya, sehingga harus melakukan dan memutuskan banyak hal dalam satu waktu. Berbagai usaha yang kita lakukan dengan satu tujuan yaitu memastikan setiap murid di kelas sukses dalam proses pembelajarannya.
Mempelajari setiap perbedaan dari mereka, bagaimana keinginan mereka, mempelajari setiap ruang isi hati murid adalah kebahagiaan bagi kita jika pada akhirnya kita dapat menemukan binar di mata murid, ada cahaya kebahagiaan terpantul dari wajah-wajah yang semuanya menginginkan perhatian dari kita. Menyadarkan kita bahwa, memunculkan motivasi diri pada murid bukanlah berasal dari factor ekternal dirinya, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Bahwa penghargaan yang sesungguhnya adalah penghargaan dari dalam diri murid itu sendiri, dan itu bukanlah pujian, bukan hadiah apalagi hukuman.
Tugas kita sebagai pendidik dalam mewujudkan kondisi aman dan nyaman bagi murid untuk mengeksplorasi dirinya di sekolah, dengan memberikan lingkungan yang menyenangkan serta dalam lingkup budaya positif.
Lalu bagaimana dapat mengimplementasikan hal tersebut di kelas kita? Salah satu caranya adalah dengan pembelajaran berdiferensiasi. Dan setelah saya mempelajari materi ini, kemudian saya memahami bahwa 1) dalam pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti seorang guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid, 2) bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain, 3) bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang, 4) buka memberi tugas yang berbeda untuk setiap anak, 5) bukan sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaoitic), yang gurunya harus berlari ke sana ke mari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu bersamaan, 6) guru bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa kesana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu atau memecahkan semua permasalahan.
Menurut Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha sadar menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap murid.
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid dan Membantu Pencapaian Hasil Belajar yang Optimal
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
- Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
- Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
- Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
- Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda,
- Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom mengemukakan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek, antara lain:
1) Kesiapan belajar (readiness) murid
a. Bersifat mendasar - Bersifat transformative
Bersifat mendasar: suatu ketika murid dihadapkan pada suatu ide baru, atau mungkin jika ide tersebut bukan salah satu yang disuakai oleh murid, maka mereka seringkali membutuhkan informasi pendukung yang lebih jelas, sederhana dan tidak bertele-tele untuk memahaminya dan mereka membutuhkan waktu yang agak lama dalam memahaminya, apa bila murid kita diposisi ini maka bahann materi dan penugasan yang mereka lakukan adalah bersifat mendasar dan penyajiannya dengan cara yang membantu mereka dapat membangun landasan pemahaman yang kuat.
Bersifat transforatif: jika murid dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka pahami atau berada di area yang menjadi keuatan bagi mereka, maka dibutuhkan informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka dapat memikirkan ide tersebut jika dihubungkan dengan ide lain untuk menciptakan pemikiran baru
b. Konkret-Abstrak
guru mungkin dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di tingkatan perlu belajar secara konkret atau sudah siap bergerak mempelajari sesuatu yang lebih abstrak.
c. Sederhana-Kompleks
Beberapa murid mungkin perlu bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu; yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi.
d. Terstruktur-Open ended
Kadang-kadang murid perlu menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk mereka, di mana mereka tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di waktu lain, murid siap menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka.
e. Tergantung (dependent)-Mandiri (Independent)
Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain, beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada yang lain
f. Lambat-Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari sebuah topik.
Murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar).
2) Minat murid,
Lalu jika tugas tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat). Murid memiliki minatnya sendiri, ada yang berminat di bidang seni,matematika, sains, drama, memasak dan lain sebagainya. Minat adalah salah satu motivator penting bagi anak untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Menurut Tomlinson (2001), mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan antara lain: 1) membantu murid menyadari adanya kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar, 2) menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran, 3) menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, 4) meningkatkan motivasi belajar murid.
Beberapa ide yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat dan mempertahankan minat adalah: 1) menciptakan situasi pembelajaran yang menarik perhatian murid (misalnya dengan humor, menciptakan kejutan-kejutan, dsb), 2) menciptakan konteks pembelajaran yang dikaitkan dengan minat individu murid, 3) mengkomunikasikan nilai manfaat dari apa yang dipelajari murid, 4) menciptakan kesempatan-kesempatan belajar di mana murid dapat memecahkan persoalan (problem-based learning).
3) Profil belajar murid.
Jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar). Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll.
Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri.
Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
a. Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur, dsb. Contohnya: mungkin ada anak yang tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu terang, dsb.
b. Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
c. Preferensi gaya belajar. Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:
- visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer );
- auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik);
- kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb).
d. Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences): Teori tentang kecerdasan majemuk menjelaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki delapan kecerdasan berbeda yang mencerminkan berbagai cara kita berinteraksi dengan dunia. Kecerdasan tersebut adalah visual-spasial, musical, bodily- kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logic- matematika.
Guru dapat
mengidentifikasi kebutuhan murid dengan berbagai cara. Berikut ini
adalah beberapa contoh cara-cara yang dapat dilakukan guru untuk
mengidentifikasi kebutuhan belajar murid:
1)
mengamati
perilaku murid-murid mereka;
2)
mencari
tahu pengetahuan awal yang dimiliki oleh murid terkait dengan topik yang
akan dipelajari;
3)
melakukan
penilaian untuk menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka saat
ini, dan kemudian mencatat kebutuhan yang diungkapkan oleh informasi yang
diperoleh dari proses penilaian tersebut;
4)
mendiskusikan
kebutuhan murid dengan orang tua atau wali murid;
5)
mengamati
murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas;
6)
bertanya
atau mendiskusikan permasalahan dengan murid;
7) membaca
rapor murid dari kelas mereka sebelumnya untuk melihat komentar dari guru-guru
sebelumnya atau melihat pencapaian murid sebelumnya;
8) berbicara dengan guru murid sebelumnya;
9) membandingkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan tingkat pengetahuan atau keterampilan yang ditunjukkan oleh murid saat ini;
10) menggunakan berbagai penilaian diagnostik untuk memastikan bahwa murid telah berada dalam level yang sesuai;
11) melakukan survey untuk mengetahui kebutuhan belajar murid;
12) mereview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran mereka sendiri untuk mengetahui efektivitas pembelajaran mereka;
13) dll
Diferensiasi sendiri dapat dilakukan dengan beberapa strategi, dan kita akan fokus paad tiga strategi saja yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.
1) Diferensiai konten
Konten adalah apa yg diajarkan pada murid kita Konten dpt dibedakan sebgai tanggapan pada tingkat kesiapan, minat dan profil belajar murid yg berbeda, atau juga terhadap kombinasi dari tingkat kesiapan, minat dan profil belajar murid
2) Diferensiasi Proses
Mengacu pada bagaimana murid memahami atau memaknai apa info atau materi yang sedang dipelajari. Saat kita telah memetakakan kebutuhan belajar murid yang kemudian yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kebutuhan itu harus dipenuhi, caranya seperti apa yang perlu disiapkan agar kita mengetahui bahwa setiap murid belajar. Apa murid bekerja secara mandiri atau dalam kelompok, termasuk juga seberapa banyak bantuan yang kita berikan pada murid dalam proses belajar. Kesemuanya itu harus dirancang sedemikian rupa. Bagaimana cara melakukan diferensiasi proses? Ada banyak cara kita melakukan diferensiasi proses,misalnya kita dapat:
a. melakukan kegiatan berjenjang. Dimana smeua murid bekerja membangun pemahaman dan keterampilan yang sama tetapi dilakukan dengan berbagai tingkat dukungan, tantangan atau kompleksitas yang berbeda-beda
b. kita dapat meneydiakan pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat. Sudut-sudut minat yang kita siapkan di kelas, akan mendorong murid untuk mengeksplorasi berbagai sub materi yang terkait dengan topik yang sedang dipelajari yang menarik minat mereka.
c. Membuat agenda individual untuk murid, misalnya guru membuat daftar tugas untuk pekerjaan umum untuk seluruh kelas serta daftar pekerjaan yang terkait dengan kebutuhan individual murid. Jika murid telah selesai mengerjakan murid telah mengerjakan tugas pekerjaan umum, maka mereka dapat melihat agenda dan mengerjakan pekerjaan yang dibuat khusus untuk mereka
d. Memvariasikan lama waktu yang murid dapat amnbil untuk menyelesaikan tugas untuk memberikan dukungan tambahan untuk murid yang mengalami kesulitan atau sebaliknya mendorong murid yang cepat untuk mengejar topik secara lebih mendalam.
e. Mengembangkan kegiatan bervariasi yang mengakomodasi beragam gaay belajar.
f. Menggunakan pengelompokan yang fleksibel yang sesuai dengan kesiapan, kemampuan dan minat belajar
3) Diferensiasi
produk
Pada saat kita membiarakan tentang produk, maka kita akan memikirkan
tentang tagihan apa yang kita harapkan dari murid. Produk ini adalah hasil
pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan oleh murid kepada guru. Produk
yang dibuat harus mencerminkan pemahamn murid dan berhub dgn tujuan
pemeblajaran yang diharapkan.
2 pokok diferensiasi produk:
a. Memberikan tantangam dan keragaman/ variasi
b. Memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan
Ekspektasi pada murid:
a.
Kualitas
pekerjaan
b. Konten yang harus ada dalam produk
c. Bagaimana harus dikerjakan
Sebagai pendidik, kita tentu menyadari
bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita
sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap
anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya
masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa
selamat dan bahagia. Hal ini sebagai upaya memenuhi kebutuhan belajar semua
murid.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh murid yang memiliki perbedaan baik latar belakang, gaya belajar maupun tingkat pemahamannya masing-masing. Dengan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi adalah juga upaya bagi seorang pendidikan mewujudkan pembelajaran berpihak pada murid, sehingga murid dapat menemukan kebahagiaan dan keselamatan baik sebagai seorang individu maupun sebagai anggota Masyarakat. Sejatinya bahwa dalam pembelajaran berdiferensiasi maka seorang pendidik telah memberikan ruang yang nyaman bagi murid untuk belajar sesuai bakat dan minat yang dimilikinya.
Daftar Pustaka
Oscarina, DK, dkk. 2020. Paket Modul 2 Praktik
Pembelajaran yang Berpihak pada Murid, Modul 2.1 “Memenuhi Kebutuhan Belajar
Murid melalui Pembelajaran Berdiferensiasi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan:
Pendidikan Guru Penggerak.
Jumat, 14 Juni 2024
Happy Weekend
Alhamdulillah, tugas terselesaikan satu per satu dengan bahagia. Siap melaksanakan tugas berikutnya. Setiap pengalaman adalah guru bagi Kita, dan itu yang terbaik. Tetap fokus pada solusi, karena sejatinya setiap permasalahan pasti ada solusinya.
Fokus pada solusi adalah bagian dari budaya positif.
#quotes by Anita Dian Sukardi#

